About Us

Hubungan Islam dan Pancasila
Sinta Nurbayani

Pendahuluan
 secara etimologis islam berasal dari bahasa Arab, terambil dari kosakata salima yang berarti selamat sentosa. Dari kata ini dibentuk menjadi kata aslama yang berarti memeliharakan dalam keadaan selamat, sentosa dan berarti pula berserah diri, patuh, tunduk dan taat.
Adapun pengertian islam menurut istilah adalah agama yang didasarkan pada lima pilar utama, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa dibulan ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji bagi yang sudah mampu.
Ketika orang berbicara tentang pancasila pada masa sekarang pikirannya langsung tertuju pada pancasila yang dirumuskan dalam alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebab itulah pancasila yang secara resmi ditetapkan oleh instruksi presiden No. 12 Tahun 1968.
Dalam notulen sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoozakai (Badan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) (BPUPKI) sebelum menjadi rumusan resmi, pancasila telah dirumuskan oleh Sukarno dalam pidatonya 1 Juni 1945 sebagai berikut: kebangsaan Indonesia, internasionalisme, atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang berkebudayaan. Sukarno mengatakan bahwa kelima sila itu berasal dari prinsip yang terkandung dalam satu perkataan Inonesia yang tulen yaitu gotong royong.
Pengertian pancasila dapat dibedakan menjadi dua yaitu pancasila formal yang berupa pengertian yang abstrak berupa ide tokoh-tokoh perumus pancasila yang kemudian dituangkan dalam rumusan tertulis dalam dokumen-dokumen penting. Dan pancasila material yang hidup dan berkembang dalam sejarah, peradaban, agama, hidup ketata negaraan, lembaga sosial (struktur sosial asli Indonesia yang bersifat gotong royong).
 Supomo tidak merumuskan pancasila secara tegas, tetapi dalam pidatonya tanggal 30 Mei dia menyebutkan: Negara yang bersatu dengan seluruh rakyatnya, budi pekerti dengan kemanusiaan yang luhur, takluk pada Tuhan, sistem badan permusyawaratan, dan sistem sosialisme negara. Dalam merumuskan kelima asas itu Supomo mengatakan bertitik tolak dari lembaga sosial (struktur sosial) dari masyarakat asli yang diciptakan oleh kebudayaan Indonesia dan aliran pikira natau semangat kebatinan bangsa Indonesia.
Muhammad Yamin yang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945 merumuskan pancasila itu sebagai berikut: peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat (keadilan sosial). Beliau menyatakan bahwa kelima sila yang dirumuskan itu berakar pada sejarah, peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di Indonesia. Menurt Hatta dalam pidatonya tanggal 29 mei Yamin tidak merumuskan pancasila, tetapi dia merumuskan pancasila yang diberi tanggal 29 mei itu sesudah Sukarno.
Dari beberapa uraian mengenai pancasila dapat difahami bahwa rumusan pancasila (formulasi) pancasila, yang disebut juga pancasila formal itu mempunyai akar yang dalam pada kegotongroyongan masyarakat Indonesia (Sukarno), pada lembaga sosial (struktur sosial) dari masyarakat asli yang diciptakan oleh kebudayaan Indonesia, aliran pikiran dan semangat kebatinan bangsa Indonesia (Supomo), dapa sejarah, peradaban, agama dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di Indonesia (Yamin). Akar-akar pancasila itu disebut pancasila material (notonegoro).

Pembahasan
            pada tahun 1982/1983 pancasila sebagai asas organisasi adalah isu politik yang panas. Ada kecenderugan aka ada keharusan bagi semoa orpon dan ormas untuk memakai pancasila sebagai asas. Ketentuan itu dibuat karena ada kekhawathiran bahwa ormas atau parpol islam masih memperjuangkan negara islam.
Untuk menanggapi hal itu dan banyak masalah lainnya, para ulama senior dalam syuriyah NU mengambil prakarsa untuk mengadakan Musyawarah Alim Ulama NU, diselenggarakan Desember 1983 di pesantren Sukorejo, Situbondo.
Tanggal 21 Desember 1983 munas memutuskan untuk menerima pancasila dan memulihkan NU menjadi organisasi keagamaan sesuai Khittah 1926. Keputusan itu dikukuhkan Muktamar NU XXXVII, Desember 1984. NU adalah ormas islam yang menerima asas pancasila. Muhammadiyah menerima setelah terbitnya UU No. 8/1985 tentang organisasi kemasyarakatan.
Untuk menyusun dasar pemikiran bagi sikap NU menanggapi kecenderungan kebijakan pemerintah tentang asas pancasila, syuriyah NU meminta sejumlah kiai untuk menyampaikan pemikirannya. Yang paling menonjol adalah K.H. Achmad Siddiq, alumnus pesantren Tebuireng yang pernah menjadi asisten K.H. A Wahid Hasyim.
Menurut kiai achmad, pencantuman asas islam sama dengan pencantuman asas marxisme, liberalism dan sebagainya. Jadi menjadikan islam sejajar dengan isme-isme lain. Islam yang dijadikan asas adalah islam dalam arti ideologi, bukan agama. Ideology adalah karya manusia tidak akan mencapai derajat menjadi agama, tidak terkecuali pancasila.
Dalam hubungan antara agama islam dengan pancasila, keduanya dapat berjalan saling menunjang dan saling mengokohkan. Keduanya tidak bertentangan dan tidak boleh dipertentangkan. Juga tidak boleh dipilih salah satu dengan sekaligus membuang dan meninggalkan yang lain.
Menurut kiai Achmad Saddiqi, salah satu hambatan utama bagi proporsionalisasi ini berwujud hambatan psikologis, yaitu kecurigaan dan kekhawatiran yang datang dari dua arah.  Salah satu langkah dalam mengembalikan kepercayaan bahwa islam bukan merupakan bahaya laten atau oposan bagi negara adalah menerima pancasila sebagai asas organisasi. Argument kiai Ahmad Soddiq ternyata hanya diterima oleh dua penanggap, 34 penanggap lainnya menentang. Dari 100 orang anggota komisi khittah NU, sebagian besar mempermasalahkan asas pancasila itu, jawaban beliau, “ ibarat makanan,pancasila itu sudah kita kunyah selama 38 tahun, kok baru kita persoalkan halal dan haramnya.” Lalu diungkapkan, empat ulama besar NU K.H. As’ad Syamsul Arifin, K.H. Mahrus Ali, K.H. Masykur, dan K.H. Ali Ma’syum mendukung makalahnya itu.
Munas dan ulama NU 1983 memutuskan untuk menerima deklarasi Hubungan Islam dan Pancasila, yang isinya:
pertama, pancasila sebagai dasar dan filsafah negara Republik Indonesia bukan agama, dan tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dapat digunakan untuk mengganti kedudukan agama.
Kedua, sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara Republik Indonesia, menurut pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang menjiwai sila-sila lain, mencerminkan tauhid menurut keimanan dalam islam.
Ketiga, bagi Nahdlatul Ulama, islam islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar sesama manusia.
Keempat, penerimaan dan pengamalan pancasila merupakan wujud utama upaya umat islam Indonesia untuk menjalankan syai’at agamanya.
Kelima, konsekuensi dari sikap itu, Nahdlatul Ulama wajib mengamalkan pengertian yang benar tentang pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.
Kiai Achmad Siddiq menegaskan, “bagi NU, Republik Indonesia berdasar pancasila merupakan bentuk final dari upaya membentuk negara oleh seluruh bangsa Indonesia.
Dalam hubungan  islam dan pancasila, dapat kita ketahui bahwa, pemikiran islam dalam kebangsaan Indonesia secara langsung telah melahirkan negara kesatuan republik Indonesia. Pancasila dilahirkan oleh para bapak bangsa, dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Ide kebangsaan lahir, menyatu, dan berkembang bersama ide keislaman.
Mengaitkan ide kebangsaan dan keislaman disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, bahwa nilai moral islam telah membentuk dan menjadi roh yang mengisi nilai tauhid pancasila. Nilai tauhid itu menjadi roh utama yang membentuk sila-sila selanjutnya salam falsafah bangsa pancasila. Kedua, bahwa wacana keislaman dengan tauhid sebagai fondasi berbangsa melalui pancasila.

Daftar Pustaka
Suarno. 1993. Pancasila Budaya Bangsa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.
Zada, Khamami, Fawaid Sdzazili. 2010. Nahdlatul Ulama. Jakarta: Buku Kompas.
Wasitaatmadja, Fokky Fuad. 2018. Falsafah Pancasila. Depok: Prenadamedia Grup.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Ceyron Louis

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar